Minggu, 11 Agustus 2013

MATERI ASAL PENCIPTAAN JIN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم

ALLAH Ta’âla berfirman:
“Dan KAMI telah menciptakan jân sebelum itu (Adam), dari api yang sangat panas (nâr as-samûm)”. [Al-Hijr : 27]
“Dan DIA menciptakan jân dari nyala api (mârij).” [Ar-Rohman : 15]

ALLAH juga berfirman mengisahkan perkataan Iblis:
“ALLAH berfirman: ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu AKU menyuruhmu?’
Iblis menjawab, ‘Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedang Engkau ciptakan dia dari tanah.’” [Al-A’rof : 12]

Imam Muslim mencantumkan sebuah hadits yang diterima dari ‘Urwah, dari Aisyah, yang meriwayatkan bahwa Rasulullah shollallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:
Malaikat diciptakan dari cahaya, dan jân diciptakan dari nyala api (mârij), dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan kepada kalian. [HR Muslim, Kitab az-Zuhd wa ar-Raqâq, juz XVI, hal. 123]


Makna Mârij dan Nâr as-Samûm

Makna Mârij

Berkenaan dengan makna al-mârij, Imam an-Nawawi mengatakan, “Yaitu jilatan api (al-lahab) yang bercampur dengan hitamnya api.”

Ath-Thobari mengatakan:
Al-mârij ialah sesuatu yang bercampur satu sama lain, antara merah, kuning, dan biru, berdasar ucapan orang-orang Arab yang mengatakan “marija ‘amr al-qowm” yang berarti “urusan kaum itu bercampur aduk”. Juga berdasar ucapan Nabi shollallâhu ‘alaihi wasallam kepada Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash yang berbunyi, “Bagaimana halmu jika kamu berada di tengah-tengah suatu kaum yang perjanjian dan amanah mereka sudah bercampur baur?”* Dengan demikian, arti mârij adalah nyala api dan lidah api. [Tafsir ath-Thobariy, al-Babiy al-Halabiy, 1373 H, juz XVII, hal. 126]

* HR Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab az-Zuhd al-Malâhim, bab al-‘Amr bi al-Ma’ruf wa an-Nahy ‘an al-Munkar. Juga ditakhrij oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya, dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab al-Fitan.

Dalam Tafsir al-Qurthubi disebutkan:
Al-Mârij adalah al-lahab (nyala api) – dari Ibnu Abbas. Atau, inti api, atau lidah api yang berada di puncak ketika api tersebut menyala.
Al-Laits mengatakan, “Al-Mârij ialah api yang sangat terang yang memiliki nyala (panas) yang sangat kuat.”
Ibnu Abbas mengatakan, “Al-Mârij adalah nyala api yang berada di bagian atas, yang saling bercampur warnanya antara merah, kuning dan biru.”
Abu ‘Ubaidah dan al-Hasan mengatakan, “Al-Mârij adalah campuran api. Ia berasal dari marija yang berarti bercampur baur.”
Al-Jauhari dalam al-Shihôh menyatakan bahwa yang dimaksud dengan mârij min nâr adalah api yang tidak berasap, yang dari itu jin diciptakan. [Tafsir al-Qurthubiy, Dar al-Sya’b, juz VII, hal. 6331]


Makna As-Samûm

Imam an-Nasafi mengatakan, “…… as-samûm, ialah api yang sangat panas yang digunakan di tempat peleburan.” [Tafsir an-Nasafiy, juz II, hal. 272]

Tafsir al-Qurthubi menyatakan, “Diriwayatkan bahwa ALLAH subhânahu wata’âla menciptakan dua jenis api, yang satu sama lain bercampur, dan saling telan-menelan, itulah nâr as-samûm (api yang sangat panas).” [Tafsir al-Qurthubiy, hal. 6331]

Tafsir al-Qurthubi juga menyebutkan:
Ibnu Mas’ud mengatakan (tentang Suroh Al-Hijr), “Nâr as-samûm yang darinya jin diciptakan adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian api Jahannam.”
Ibnu Abbas mengatakan bahwa as-samûm ialah angin yang sangat panas dan mematikan. Di bagian lain Ibnu Abbas juga mengatakan bahwa as-samûm adalah api tanpa asap, dan halilintar terbuat darinya.
Al-Qusyairi mengatakan, “Angin panas disebut as-samûm karena ia masuk misâm tubuh (mengandung racun).” [Tafsir al-Qurthubiy, hal. 3639]



Jin Tidak Lagi Berbentuk Api

Seperti halnya manusia yang tidak lagi berbentuk tanah yang bila dicampur dengan air akan menjadi luluh, maka seperti itu pulalah jin. Mereka sudah dibentuk oleh ALLAH menjadi wujud benda yang dilengkapi dengan organ-organ dan kemudian ditiupkan ruh dan menjadi makhluk yang cerdas, berakal, dan memiliki kebebasan memilih, persis seperti ketika ALLAH mengembangkan Nabi Adam ‘alaihissalam dari tanah.

Dengan kehendak dan kekuasaan ALLAH, nyala api berubah menjadi benda yang kemudian diberi ruh dan berubah menjadi zat yang berbentuk dan bersosok, ringan dan lembut.


Wallâhu ‘alam.


Thanks for reading  ^_^

Sumber:
Buku “Dialog Dengan Jin Muslim: Pengalaman Spiritual”, karya Muhammad Isa Dawud, 1997 (cetakan XII), hal. 22-25

P.S.
Silakan kalau mau copy-paste, dan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.



Related Posts:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar