Selasa, 18 Juni 2013

MEMAHAMI SIFAT-SIFAT ALLAH TA’ĀLA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم

ALLAH Ta’âla adalah DIA yang ada sendiri, mengetahui, dan kuasa. DIA meliputi, mengisi tiap ruang, makhluk, dan benda. DIA-lah sumber kehidupan, pengetahuan dan kekuatan. ALLAH Ta’âla adalah Pencipta, Pengatur, dan Penguasa alam semesta. DIA esa secara mutlak. Hakekat, pesona, dan sifat ALLAH Ta’âla sama sekali di luar jangkauan pemahaman manusia, dan oleh karena itu setiap upaya apapun untuk mendefinisikan hakekat-NYA akan berakhir tidak hanya sia-sia tapi juga berbahaya bagi kesejahteraan dan keimanan spiritual kita, karena sudah pasti hal itu akan membawa kita pada kekeliruan.

Cabang trinitarian Gereja Kristen, selama sekitar 17 abad telah membuat otak para santo dan filsufnya letih karena mendefinisikan hakekat dan pesona Tuhan. Dan apa yang telah mereka temukan? Athanasius, Augustine, dan Aquinas telah memaksa kaum Kristen berada di bawah “derita kutukan abadi” – harus meyakini Tuhan yang “ke tiga dari tiga” – Dalam Al-Quran, ALLAH Ta’âla mengutuk keyakinan ini dengan kata-kata tegas:

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa ALLAh adalah salah satu dari yang tiga; padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” [Al-Maidah: 73]

Alasan mengapa para ulama Muslim selalu menghindar mendefiniskan hakekat ALLAH Ta’âla adalah karena hakekat-NYA melampaui semua sifat yang bisa didefinisikan (dijelaskan dengan uraian). ALLAH Ta’âla mempunyai banyak nama yang dalam realitasnya hanyalah merupakan sifat-sifat yang berasal dari hakekat-NYA melalui berbagai macam manifestasi di alam raya yang telah ALLAH Ta’âla bentuk sendiri. Kita menyeru ALLAH Ta’âla dengan sebutan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Kekal, Yang Maha Ada di mana-mana, Yang Maha Pengasih, dan sebagainya, karena kita memahami kekekalan, pengetahuan universal, kemurah-hatian, dan sebagainya sebagai sifat yang memancar dari hakekat-NYA, dan secara mutlak hanya milik-NYA saja. Hanya ALLAH Ta’âla yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Hidup, Maha Suci, Maha Indah, Maha Baik, Maha Mencintai, Maha Agung, Maha Penuntut Balas yang Dashyat, karena hanya dari DIA saja memancar dan mengalir kualitas pengetahuan, kekuasaan, kehidupan, kesucian, keindahan, dan sebagainya.

ALLAH Ta’âla tidak memiliki sifat dalam arti sebagaimana kita memahami atribut-atribut itu. Dalam diri kita, ada suatu sifat atau ciri yang juga dimiliki banyak individu dari suatu spesies. Namun, sifat dan ciri yang dimiliki ALLAH hanya ALLAH saja yang memilikinya, dan tidak ada selain DIA yang memilikinya. Ketika kita mengatakan, “Sulaiman itu bijak, kuat, dan adil”, maka kita tidak menganggap bahwa semua kebijakan, kekuatan, dan keadilan berasal dari dia. Kita hanya bermaksud mengatakan bahwa dia relatif bijak dibandingkan dengan yang lain dari spesiesnya, dan kebijakan itupun relatif merupakan sifatnya yang sama-sama dimiliki oleh individu-individu dari golongannya.

Sifat ilahiah adalah suatu emanasi (pancaran) dari ALLAH Ta’âla, dan oleh karena itu merupakan suatu aktivitas. Setiap perbuatan ilaihan tak lebih dan tak kurang adalah sebuah penciptaan. Harus juga diakui bahwa sifat-sifat ilahiah, karena merupakan emanasi, menunjukkan waktu dan sebuah permulaan. Inilah yang disebut kaum Sufi sebagai “aql-kull” (kecerdasan universal), sebagai emanasi “aql awwal” (kecerdasan pertama). Kemudian “nafs-kull” (jiwa universal) yaitu yang pertama mendengar dan menaati perintah ilahiah ini, memancar dari “jiwa pertama” dan menjelma menjadi alam semesta. Tentu saja, pandangan-pandangan mistis dari kaum Sufi ini tidak perlu dianggap sebagai dogma Islam. Jika kita membahas lebih jauh ke dalam ajaran-ajaran gaib ini, kita secara tanpa sengaja bisa tergiring ke dalam panteisme (kemusyrikan) yang merusak amalan Islam.

Analisis ini akan membawa kita kepada kesimpulan bahwa setiap perbuatan ALLAH Ta’âla menunjukkan suatu emanasi ilahiah sebagai manifestasi dan sifat khusus-NYA, tapi itu bukan hakekat dan eksistensi-NYA. ALLAH adalah Pencipta, karena DIA menciptakan pada permulaan waktu, dan selalu mencipta. ALLAH berbicara pada permulaan waktu persis sebagaimana DIA berbicara dengan cara-NYA. Namun karena ciptaan-NYA tidaklah kekal dan bukan Tuhan, maka firman-NYA pun tidak dapat dianggap kekal atau bukan Tuhan.

Kaum Kristen melangkah lebih jauh, dan menjadikan Pencipta sebagai bapak Tuhan dan firman-NYA sebagai anak Tuhan. Dan juga, karena DIA menghembuskan kehidupan ke makhluk-makhluk-NYA, DIA disebut roh Tuhan, dengan melupakan logika bahwa DIA tidak bisa menjadi bapak sebelum penciptaan, tidak juga menjadi anak sebelum DIA berbicara, dan tidak juga menjadi roh kudus sebelum DIA memberi kehidupan.

Sifat-sifat ALLAH bisa dipahami melalui karya-karya-NYA dalam berbagai manifestasi sebagai suatu posteriori. Namun, mengenai sifat kekal dan apriori-NYA, hal itu tidak bisa dipahami, dan bahkan tidak bisa dibayangkan ada kecerdasan manusia yang mampu memahami wujud dari suatu sifat kekal dan hubungannya dengan hakekat ALLAH. Sesungguhnya, ALLAH Ta’âla tidak mengungkapkan wujud dari eksistensi-Nya kepada kita dalam Kitab Suci ataupun melalui kecerdasan manusia.

Sifat-sifat ALLAH Ta’âla jangan dianggap sebagai entitas atau personalitas ilahiah yang berbeda-beda dan terpisah-pisah. Jika dianggap berbeda-beda, maka kita akan memiliki tidak hanya satu trinitas dari oknum-oknum Ketuhanan, tapi juga berpuluh-puluh trinitas. Sebuah sifat, sebelum ia benar-benar memancar dari subjeknya, maka ia tidak ada. Kita tidak dapat memberi sifat suatu subjek dengan suatu sifat tertentu sebelum sifat tersebut benar-benar muncul darinya dan terlihat. Oleh karena itu, kita mengatakan “ALLAH Maha Baik” ketika kita menikmati perbuatan-NYA yang baik, tapi kita tidak dapat mengatakan dan menjelaskan dengan “ALLAH adalah kebaikan”, karena kebaikan bukalah ALLAH, melainkan perbuatan-NYA.

Alasan inilah yang membuat Al-Quran selalu menghubungkan ALLAH Ta’âla dengan sebutan kata sifat, seperti Yang Maha Bijak, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Belaskasih, dan tidak pernah dengan deskripsi seperti “ALLAH adalah cinta, pengetahuan, dan firman”, dan sebagainya, karena cinta adalah perbuatan dari si pecinta, bukan si pecinta itu sendiri, sebagaimana pengetahuan adalah perbuatan dari orang yang mengetahui dan bukan orangnya itu sendiri. Firman ALLAH Ta’âla merupakan ungkapan Pengetahuan dan Kehendak ALLAH, bukan ALLAH itu sendiri.


Thanks for reading  ^_^

Sumber:
Bagian dari Bab Pendahuluan buku “Menguak Misteri Muhammad Shallallaahu alaihi wasallam”, 2006 (cetakan ke-9), karya Prof. David Benjamin Keldani (Abdul Ahad Dawud)
           
P.S.
Silakan kalau mau copy-paste, dan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.



Related Posts:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar