Selasa, 26 Mei 2015

TINGKATAN-TINGKATAN WAHYU

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم

1.      Wahyu datang melalui mimpi yang hakiki. Ini merupakan permulaan wahyu yang turun kepada Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam.

2.      Wahyu disusupkan ke jiwa dan hati beliau, tanpa dilihat beliau, sebagaimana beliau bersabda, “Sesungguhnya Ruhul-Qudus menghembuskan ke dalam diriku, bahwa suatu jiwa sama sekali tidak akan mati hingga disempurnakan rezekinya. Maka bertaqwalah kepada ALLAH, baguskan dalam meminta, dan janganlah kalian menganggap lamban datangnya rezeki, sehingga kalian mencarinya dengan cara mendurhakai ALLAH, karena apa yang ada di sisi ALLAH tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan menaati-NYA.”

3.      Wahyu disampaikan oleh malaikat yang muncul di hadapan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam dalam rupa seorang laki-laki, lalu berbicara dengan beliau hingga beliau bisa menangkap langsung apa yang dibicarakannya. Dalam tingkatan ini, terkadang para Shahabat juga bisa melihatnya.

4.      Wahyu datang menyerupai bunyi gemerincing lonceng. Tingkatan ini merupakan wahyu yang paling berat dan malaikat tidak terlihat oleh pandangan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam, hingga dahi beliau berkerut berkeringat meski udara sangat dingin, dan hingga hewan tunggangan beliau menderum ke tanah jika beliau sedang menaikinya. Wahyu seperti ini pernah datang ketika paha beliau berada di atas Zaid bin Tsabit, dan Zaid kemudian merasa keberatan dan hampir saja tidak kuat menyangga beliau.

5.      Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bisa melihat malaikat dalam rupa aslinya, yang kemudian menyampaikan wahyu pada beliau. Wahyu seperti ini pernah datang dua kali, sebagaimana yang disampaikan oleh ALLAH pada Suroh An-Najm.

6.      Wahyu disampaikan oleh ALLAH di atas lapisan-lapisan langit pada malam Mi’raj, berisi kewajiban sholat dan lain-lainnya.

7.      ALLAH berfirman secara langsung kepada Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam tanpa perantara, seperti halnya ALLAH berfirman kepada Musa ‘alaihissalam. Wahyu semacam ini pasti berlaku bagi Musa ‘alaihissalam berdasarkan Al-Quran dan menurut penuturan beliau dalam hadits tentang Isra’.

8.      ALLAH berfirman secara langsung di hadapan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam tanpa tabir apapun. Namun, hal ini dipertentangkan oleh ulama salaf dan khalaf. Tingkatan ini merupakan pendapat yang tidak kuat.


Sumber:
Buku Ar-Rohiqul Makhtum, Bahtsun fis-Siroh an-Nabawiyah ala Shohibina Afdholish Sholati was-Salam (Siroh Nabawiyah), karya Syaikh Shofiyyurrohman al-Mubarokfuri, 2013.

PS:

Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

TANGGAL BERAPA WAHYU PERTAMA DITURUNKAN?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم

Ada perbedaan pendapat yang cukup tajam di antara para pakar sejarah mengenai permulaan waktu diturunkannya wahyu kepada Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam. Ada yang menetapkannya pada Rabiu’l Awwal, ada yang menetapkan pada Ramadhan, dan ada pula pada Rajab. Syaikh Shofiyyurrohman al-Mubarokfuri menguatkan pendapat ke dua, yaitu pada Ramadhan. Hal ini diperkuat dengan firman ALLAH pada Suroh Al-Baqoroh ayat 185 yang artinya:
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran”, dan pada Suroh Al-Qodar ayat 1 yang artinya, “Sesungguhnya Kami menurunkan (Al-Quran) pada Lailatul Qodar.”

Dan sudah diketahui bahwa Lailatul Qodar jatuh pada Ramadhan. Hal inilah juga yang dimaksud ALLAH dalam firman-NYA:
“Sesungguhnya Kami menurunkan pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (Ad-Dukhon : 3).

Penetapan tanggalnya pun menjadi perdebatan. Ada yang berpendapat pada hari ke-7 (tanggal 7), hari ke-17, hari ke-21, dan hari ke-28. Syaikh Shofiyyurrohman al-Mubarokfuri menguatkan pendapat yang menyatakan hari ke-21. Hal ini karena mayorita pakar biografi sepakat bahwa Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam diangkat sebagai rosul pada hari Senin. Hal ini diperkuat oleh riwayat para imam hadits, dari Abu Qotadah, bahwa Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya mengenai puasa hari Senin. Beliau menjawab, “Pada hari inilah aku dilahirkan dan pada hari ini pula turun wahyu (yang pertama) kepadaku.” Dalam lafazh lain disebutkan, “Itulah hari aku dilahirkan dan pada hari itu pula aku diutus sebagai rosul atau turun kepadaku wahyu.” [HR Muslim, Ahmad, al-Baihaqi, al-Hakim]

Hari Senin Ramadhan pada tahun itu jatuh pada tanggal 7, 14, 21, dan 28. Beberapa riwayat shohih telah menunjukkan bahwa Lailatul Qodar tidak jatuh kecuali pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir Ramadhan. Maka berdasarkan Suroh Al-Baqoroh ayat 185 tersebut dan riwayat Abu Qotadah, jelaslah bahwa diutusnya Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam sebagai rosul adalah pada malam tanggal 21 Ramadhan. Dalam kalender Syamsiyah bertepatan dengan 10 Agustus 610. Usia beliau saat itu adalah 40 tahun 6 bulan 12 hari menurut perhitungan kalender Hijriyah, atau 39 tahun 9 bulan 20 hari menurut kalender Syamsiyah.


Sumber:
Buku Ar-Rohiqul Makhtum, Bahtsun fis-Siroh an-Nabawiyah ala Shohibina Afdholish Sholati was-Salam (Siroh Nabawiyah), karya Syaikh Shofiyyurrohman al-Mubarokfuri, 2013.

PS:

Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

Jumat, 22 Mei 2015

MAKNA “HAMBA” DI SURAT AL-ISRÂ AYAT 1

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم

Dalam Al-Isrâ ayat 1, ALLAH berfirman:
“Maha Suci ALLAH, yang telah memperjalankan hamba-NYA pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa’ ……”

Pada ayat tersebut, ALLAH memulainya dengan menyebut Kemahasucian-NYA. Lafadh ini digunakan bila hal yang akan disampaikan oleh ALLAH adalah hal yang amat sangat luar biasa dan sangat mengagumkan. Hal ini juga menjelaskan bahwa apa yang akan disampaikan adalah tentu saja hal yang benar karena ALLAH Maha Suci, sehingga hal yang sangat aneh bila masih ada orang Muslim yang meragukan kebenaran peristiwa Isra Mi’raj, padahal penjelasan yang ALLAH berikan dimulai dengan “Maha Suci ALLAH”.

Hal yang mungkin menjadi pertanyaan pada ayat tersebut adalah, mengapa ALLAH menyebut “hamba”? Mengapa tidak langsung saja menyebut nama “Muhammad”? Sedikitnya terdapat dua penjelasan yang diutarakan oleh para mufasir:

1.      Penyebutan “hamba” adalah untuk menegaskan bahwa yang diperjalankan adalah jasad dan ruh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam. Ada yang beranggapan bahwa yang diperjalankan adalah hanya ruh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam saja, sedangkan jasadnya diam tidak ke mana-mana. Namun, yang disebut hamba adalah manusia yang utuh. Jika jasadnya saja, maka manusia itu disebut jenazah. Jika ruhnya saja, maka belum lengkap untuk bisa disebut hamba. Seorang hamba adalah seorang manusia berjasad dan ber-ruh. Hal ini menegaskan bahwa yang diperjalankan adalah jasad dan ruh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam.

2.      Penyebutan “hamba” adalah bentuk penegasan dan pengakuan dari ALLAH bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam adalah memang hamba ALLAH. Istilah “hamba ALLAH” bukanlah istilah sembarangan meski banyak digunakan dengan mudah oleh banyak Muslim. Kita semua, umat Muslim, memang (mengaku) sebagai hamba ALLAH. Hanya masalahnya, apakah ALLAH mengakui kita sebagai hamba-NYA? Pengakuan dari kita memang sangat mudah, tapi pengakuan, persetujuan, dan penegasan dari ALLAH bukanlah hal mudah dan biasa, tapi hal yang sangat luar biasa dan bisa dibilang sulit.
Oleh karena itu, penyebutan “hamba” oleh ALLAH sendiri kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa beliau memang sudah pasti adalah (dan diakui) sebagai hamba ALLAH. Hal ini tentu saja sangat menyenangkan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam yang masih sedang dalam masa berkabung. Perlu diketahui bahwa selain untuk menerima perintah shalat, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam diperjalankan adalah juga untuk menghibur beliau yang mengalami masa kesedihan yang luar biasa.


Wallâhu ‘alam.

Thanks for reading  ^_^

PS:

Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

NASAB RASULULLAH SHOLLALLÔHU ‘ALAIHI WASALLAM

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم

Nasab Rasulullah shollallôhu ‘alaihi wasallam berujung pada Nabi Ismail ‘alaihissalam, yang tak lain adalah putra pertama Nabi Ibrohim ‘alaihissalam dan Siti Hajar.

Nabi Ismail ‘alaihissalam menikah dengan seorang wanita dari Bani Amalik, bernama Imarah binti Saad bin Usamah bin Akil al-Maliki. Ketika Nabi Ibrohim ‘alaihissalam menjenguknya, beliau (Nabi Ismail ‘alaihissalm) tidak ada di rumah, dan ditemui oleh istrinya yang mengatakan bahwa suaminya sedang mencari rezeki di luar. Istrinya ditanya bagaimana keadaan mereka berdua, dan dia mengeluhkan kondisi kehidupan mereka yang melarat. Dia terus menerus mengoceh dan mengadu tentang kehidupan mereka yang sengsara dan serba susah. Dia terus berbicara tanpa mengetahui bahwa orang tua di depannya adalah mertuanya sendiri. Setelah puas mendengarkan, Nabi Ibrohim ‘alaihissalam menitip pesan untuk putranya agar mengganti daun pintu rumahnya (ada yang menyatakan “mengubah palang pintu rumahnya”).

Setelah Nabi Ismail ‘alaihissalam pulang, dia bertanya pada istrinya apakah ada tamu yang datang. Istrinya kemudian menjelaskan ciri-ciri orang tua yang telah datang, dan juga menyampaikan pesan yang ditinggalkan sang tamu. Nabi Ismail ‘alaihissalam kemudian berkata, “Orang itu adalah ayahku, dan ia menyarankan padaku untuk menceraikanmu. Oleh karena itu aku akan memulangkanmu kepada keluargamu.” Beliau kemudian menikahi seorang wanita dari kabilah Jurhum yang bernama Sayidah binti Mudhodh bin Amru al-Jurhumi. Mudhodh merupakan pemimpin dan pemuka kabilah Jurhum.

Suatu hari, Nabi Ibrohim ‘alaihissalam datang lagi dan hanya ditemui oleh menantunya. Beliau juga menanyakan hal yang sama. Istrinya menjawab dengan pujian kepada ALLAH, “Alhamdulillah kami baik-baik saja dan sangat bahagia.” Beliau juga kemudian menitipkan pesan untuk putranya agar mengokohkan daun pintu rumahnya (atau palang pintu rumahnya).

Nabi Ismail ‘alaihissalam kemudian pulang dan bertanya seperti kejadian sebelumnya. Setelah diberitahu tentang ciri-ciri sang tamu, beliau berkata, “Orang itu adalah ayahku, dan daun pintu itu adalah kamu. Ia menyarankan kepadaku untuk tetap mempertahankanmu.”

Muhammad bin Isyaq mengatakan:
Sayidah binti Mudhodh itu sebenarnya istri ke tiga Nabi Ismail ‘alaihissalam. Dan dari wanita tersebut Ismail mendapatkan 12 putra, mereka adalah Nebayot, Kedar, Adbeel, Mibsam, Misyma, Duma, Masa, Hadad, Tema, Yetur, Nafish, dan Kedma.

Namun, nama-nama tersebut diambil dari Alkitab (Taurot). Pendapat lain menyatakan nama-nama 12 putra tersebut adalah Nabat atau Nabuyuth, Qoidar, Adba’il, Mibsyam, Misyma’, Duma, Misya, Hadad, Taima, Yathur, Nafis, dan Qoiduman. Dari 12 orang inilah kemudian berkembang menjadi 12 kabilah yang menetap di Mekkah sekian lama. Mata pencaharian mereka adalah berdagang, membentang dari Yaman hingga Syam dan Mesir. Kabilah-kabilah ini kemudian menyebar ke berbagai penjuru Jazirah Arab dan bahkan keluar Jazirah. Seiring berjalannya waktu, keberadaan mereka tidak lagi diketahui, kecuali anak keturunan Nabat dan Qoidar.

Peradaban Bani Nabar bersinar di Hijaz utara. Mereka mampu mendirikan pemerintahan yang kuat dan menguasai daerah-daerah di sekitarnya, dan menjadikan al-Bathro’ sebagai ibukota. Tidak ada yang berani memusuhi mereka hingga akhirnya datang bangsa Romawi yang menindas mereka.

Anak keturunan Qoidar tetap menetap di Mekkah, hingga akhirnya menurunkan Adnan dan anaknya, Ma’ad. Bangsa Arab keturunan dia kemudian disebut Arab Adnaniyah. Dan Adnan adalah kakek ke-22 dalam nasab Rasulullah shollallôhu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan bahwa jika beliau menyebutkan nasabnya dan sampai kepada Adnan, maka beliau berhenti dan bersabda, “Para ahli silsilah nasab banyak yang berdusta.” Lalu beliau tidak melanjutkannya. Sekelompok ulama memperbolehkan mengangkat nasab dari Adnan ke atas, dengan berlandaskan kepada hadits yang mengisyaratkan hal itu. Menurut mereka, dari Adnan hingga Nabi Ibrohim ‘alaihissalam terpisah 40 keturunan.

Ma’ad mempunyai anak yang bernama Nizar. Ada yang berpendapat bahwa Nizar adalah satu-satunya anak Ma’ad. Nizar mempunyai empat anak, yang kemudian menjadi empat kabilah yang besar, yaitu Iyad, Anmar, Robi’ah, dan Mudhor. Keturunan Nizar kemudian berpencar ke mana-mana. Dua kabilah terakhir (Robi’ah dan Mudhor) adalah kabilah yang paling banyak marga dan sukunya.

Dari Robi’ah terdapat Asad, Anzah, Abdul-Qois, dua anak Wa’il, Bakr, Taghlib, Hanifah, dan lain-lain. Sedangkan dari Mudhor berkembang dua suku yang besar, yaitu Qois Alian bin Mudhor dan marga-marga Ilyas bin Mudhor. Qois Alian menurunkan Bani Sulaim, Bani Hawazin, dan Bani Ghothofan. Dari Ilyas terdapat Tamim bin Murrah, Hudzail bin Mudrikah, Bani Asad bin Khuzaimah, dan marga-marga Kinanah bin Khuzaimah. Kinanah kemudian menurunkan Quraisy, yaitu anak keturunan Fihr bin Malik bin an-Nadhor bin Kinanah.

Quraoisy kemudian terbagi menjadi beberapa kabilah, yang terkenal adalah Jumuh, Sahm, Ady, Makhzum, Taim, dan Zuhroh. Selain itu terdapat suku-suku Quraisy bin Kilab, yaitu Abdud-Dar bin Qushoy, Asad bin Adbul-Uzza bin Qushoy, dan Abdi Manaf bin Qushoy.

Abdi Manaf mempunyai empat anak, yaitu Abdi Syams, Naufal, al-Muttholib, dan Hasyim. Salah satu anak Hasyim adalah Abdul Muttholib, yang kemudian menurunkan Abdullah, yang merupakan ayah Rasulullah shollallôhu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah shollallôhu ‘alaihi wasallam bersabda:
Sesungguhnya ALLAH telah memilih Ismail dari anak Ibrohim, memilih Kinanah dari anak Ismail, memilih Quraisy dari Bani Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim. [HR Muslim dan at-Tirmidzi]

Dari al-Abbas bin Abdul Muttholib (Ibnu Abbas), bahwa Rasulullah shollallôhu ‘alaihi wasallam bersabda:
Sesungguhnya ALLAH menciptakan makhluk, lalu menjadikanku dari sebaik-baik golongan mereka dan sebaik-baik dua golongan, kemudian memilih beberapa kabilah, lalu menjadikanku dari sebaik-baik kabilah, kemudian memilih beberapa keluarga lalu menjadikanku dari sebaik-baik keluarga mereka, maka aku adalah sebaik-baik diri dan sebaik-baik keluarga di antara mereka. [HR at-Tirmidzi]



Sumber:
Buku Qoshosh al-Anbiyâ’ (Kisah Para Nabi), karya Imam Ibnu Katsir, 2002.
Buku Ar-Rohiqul Makhtum, Bahtsun fis-Siroh an-Nabawiyah ala Shohibina Afdholish Sholati was-Salam (Siroh Nabawiyah), karya Syaikh Shofiyyurrohman al-Mubarokfuri, 2013.

PS:
Silakan kalau mau copy-paste, dan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

Selasa, 06 Mei 2014

ISLAM TIDAK DISEBARKAN DENGAN PEDANG

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم

Keluhan umum di kalangan non-Muslim adalah Islam tidak akan memiliki jutaan penganut jika Islam tidak disebarkan dengan kekerasan. Poin-poin berikut ini menjelaskan bahwa selain disebarkan dengan pedang, Islam juga disebarkan oleh kekuatan kebenaran, nalar, dan logika dan menyebabkan penyebaran Islam menjadi pesat.

1.      Islam berarti damai
Islam berasal dari akar kata “salâm” yang berarti damai. Makna lain adalah penyerahan diri seseorang kepada ALLAH. Dengan demikian Islam adalah agama kedamaian yang diperoleh dengan penyerahan kehendak seseorang kepada kehendak ALLAH.

2.      Kekerasan kadang harus digunakan untuk memelihara kedamaian
Tidak setiap orang mendukung pemeliharaan kedamaian dan keharmonisan. Ada banyak orang yang akan merusak kedamaian demi kepentingan mereka sendiri. Ada kalanya kekerasan harus digunakan untuk memelihara kedamaian. Untuk alasan inilah maka kita mempunyai polisi yang bertugas menggunakan kekerasan kepada para penjahat untuk menjaga kedamaian di suatu negara.
Islam menjunjung tinggi kedamaian. Pada saat yang sama, Islam mendesak para penganutnya untuk melawan penindasan di manapun. Perlawanan terhadap penindasan mungkin terkadang menghendaki digunakannya kekerasan. Dalam Islam, kekerasan hanya boleh digunakan untuk menjunjung kedamaian dan keadilan.

3.      Pernyataan sejarawan De Lacy O’Leary
O’Leary memberikan jawaban terhadap kekeliruan pandangan bahwa Islam disebarkan dengan pedang dalam “Islam at the Cross Road” (hal. 8). Ia menyatakan:
“Sejarah menjelaskan, bagaimanapun bahwa legenda tentang orang-orang Islam fanatik menyapu dunia dan memaksakan Islam sampai menggunakan pedang atas bangsa-bangsa yang ditaklukkannya adalah mitos luar biasa fantastis yang pernah diulang-ulang para sejarawan.”

4.      Kaum Muslim memerintah Spanyol selama 800 tahun
Kaum Muslim memerintah Spanyol selama sekitar 800 tahun. Kaum Muslim tidak pernah menggunakan pedang untuk memaksa orang berpindah agama. Setelah itu, kaum salibis datang ke Spanyol dan meyapu bersih kaum Muslim. Tidak ada seorang Muslimpun di Spanyol yang bisa terang-terangan mengumandangkan adzan.

5.      14 juta orang Arab adalah Kristen Koptik
Kaum Muslim adalah penguasa Jazirah Arab selama 1400 tahun. Selama beberapa tahun Inggris berkuasa dan beberapa tahun Perancis juga berkuasa. Secara keseluruhan, kaum Muslim berkuasa di tanah Arab selama 1400 tahun. Namun, saat ini terdapat 14 juta orang Arab yang memeluk Kristen Koptik selama ratusan generasi. Jika kaum Muslim menggunakan pedang tentu tidak akan ada satupun orang Arab yang tetap beragama Kristen.

6.      Terdapat 80% non-Muslim di India
Kaum Muslim memerintah India selama sekitar 1000 tahun. Kalau mereka mau, mereka tentu punya kekuatan untuk membuat setiap non-Muslim India masuk Islam. Kini lebih dari 80% penduduk India adalah non-Muslim. Semua orang India non-Muslim itu adalah saksi bahwa Islam tidak disebarkan dengan pedang.

7.      Indonesia dan Malaysia
Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia dan mayoritas penduduk Malaysia juga adalah Muslim. Orang boleh bertanya, “Pasukan Muslim mana yang menyerbu Indonesia dan Malaysia?”

8.      Pesisir timur Afrika
Islam juga menyebar cepat di pesisir timur Afrika. Orang boleh bertanya lagi, jika Islam disebarkan dengan pedang, “Pasukan Muslim mana yang menyerbu pesisir timur Afrika?”

9.      Tidak ada paksaan dalam Islam
Dengan pedang yang mana Islam disebarkan? Sekalipun kaum Muslim punya pedang, mereka tidak bisa serta merta menggunakannya karena ALLAH berfirman dalam Al-Quran Suroh Al-Baqoroh ayat 256:
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat ……”

10.  Pedang intelektual
Inilah pedang pengetahuan, yaitu pedang yang menaklukkan hati dan pikiran orang. Dalam Suroh An-Nahl 125 ALLAH berfirman:
“Ajaklah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik ……”

11.  Agama dengan peningkatan tertinggi pada 1934-1984
Sebuah artikel dalam “Reader’s Digest ‘Almanac” 1986 menyampaikan data statistik tentang peningkatan persentase agama-agama di dunia dalam setengah abad, yaitu sejak 1934 hingga 1984. Artikel yang juga dimuat dalam majalah The Plain Truth ini menyebutkan Islam menduduki tempat teratas dengan peningkatan 235%, sedangkan Kristen hanya meningkat 47%. Orang mungkin bertanya, “Perang mana yang terjadi pada abad ini yang membuat jutaan orang masuk Islam?”

12.  Agama dengan perkembangan tercepat di Amerika dan Eropa
Saat ini, agama yang paling pesar perkembangannya di Amerika dan Eropa adalah Islam. Pedang mana yang memaksa mereka untuk menerima Islam dalam jumlah sebesar itu?


Thanks for reading  ^_^

Sumber:
Buku “Mereka Bertanya, Islam Menjawab”, 2013, karya Dr. Zakir Naik, Prof. Dr. Shalah Shawi, Syaikh Abdul Majid Subh

PS:

Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

Rabu, 28 Agustus 2013

FELIX SIAUW, MASUK ISLAM SETELAH MENCARI-CARI MAKNA KEHIDUPAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم


“Jika kamu masih mempunyai banyak pertanyaan, maka kamu belum dikatakan beriman. Iman adalah percaya apa adanya, tanpa reserve.”

Itulah kira-kira pernyataan yang akan selalu diingat oleh seorang Felix Siauw. Ketika itu, dia masih berusia 12 tahun dan seorang penganut Kristen Katholik, dan mempunyai banyak sekali pertanyaan. Di antara semua pertanyaan itu, terdapat tiga pertanyaan paling utama: Dari mana asal kehidupan ini; Untuk apa ada kehidupan ini; dan Akan seperti apa akhir kehidupan ini.

Dari tiga pertanyaan utama tersebut muncullah beberapa pertanyaan turunan seperti:
Mengapa Tuhan pencipta kehidupan ini ada tiga; Tuhan Bapa, Tuhan Putra, dan Roh Kudus?
Darimana asal Tuhan Bapa?
Mengapa Tuhan bisa disalib dan dibunuh lalu mati, lalu bangkit lagi?


Mencari Jawaban di Alkitab

Semua jawaban pertanyaan itu selalu Felix dapatkan mengambang dan tidak memuaskan. Ketidakpuasan tersebut kemudian mendorongnya untuk mencari jawaban sendiri di Alkitab, kitab yang dia yakini datang dari Tuhan, yang dia pikir bisa memberikan jawaban. Sejak itu, dia mulai mempelajari isi Alkitab yang belasan tahun tidak pernah dia buka secara sadar dan sengaja.

Setelah sedikit berusaha memahami dan mendalami Alkitab, Felix terkejut karena baru mengetahui bahwa 14 dari 27 surat dari Injil Perjanjian Baru ternyata ditulis oleh manusia, yaitu Santo Paulus. Dia hampir tidak percaya karena lebih dari setengah isi kitab yang dia yakini kitab Tuhan ditulis oleh manusia. Dia lebih terkejut lagi ketika mengetahui bahwa sisa kitab yang lainnya pun merupakan tulisan tangan manusia setelah wafatnya Yesus. Kesimpulan Felix, Yesus sendiripun tidak mengetahui apa isi Injilnya.

Felixpun kemudian mengetahui bahwa konsep Trinitas yang menyatakan Tuhan itu tiga dalam satu dan satu dalam tiga (Bapa, Anak/Putra, dan Roh Kudus), yang merupakan inti ajaran Kristen, ternyata merupakan hasil kongres di Kota Nicea pada 325 Masehi. Felix juga menemukan sangat sedikit keterangan yang diberikan dalam Alkitab tentang kehidupan setelah mati, Hari Kiamat, dan asal usul manusia.

Setelah proses pencarian tersebut, Felix akhirnya memutuskan bahwa agama yang dia anut tidaklah pantas untuk dipertahankan atau diseriusi, karena tidak memberinya jawaban atas semua pertanyaan mendasar, dan juga tidak memberikan pedoman dan solusi dalam menjalani hidup.


Hidup Tidak Beragama

Sejak saat itu, Felix memutuskan untuk menjadi orang yang tidak beragama, namun tetap percaya pada Tuhan. Dia berkesimpulan bahwa semua agama tidak ada yang benar karena sudah diselewengkan oleh para penganutnya seiring berjalannya waktu. Dia menganggap semua agama sama, tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Dia juga beranggapan bahwa Tuhan seperti halnya Matahari, dan para Nabi-Nya dengan agamanya masing-masing adalah Bulan yang memantulkan cahaya Matahari, dan pemantulan itu tidak ada yang sempurna sehingga agamapun tidak ada yang sempurna. Tanpa sadar, dia telah masuk ke ideologi sekuler. Dia kemudian menjadi orang yang sinkretis dan pluralis.


Mengenal Islam

Lima tahun kemudian, semua pandangan Felix Siauw tentang konsep agama berubah dan runtuh sama sekali  ketika dia berkuliah di salah satu PTN. Dia bertemu dengan seorang ustadz muda, aktivis gerakan dakwah Islam internasional, dan juga mulai mengenal Al-Quran. Diskusi dengan sang ustadz bermula dari perdebatannya dengan seorang teman mengenai kebenaran. Sang teman berpendapat bahwa kebenaran ada di dalam Al-Quran, sedangkan Felix sendiri belum mendapatkan kebenaran. Dia kemudian dipertemukan dengan sang ustadz untuk berdiskusi lebih lanjut.

Kepada sang ustadz, Felix bercerita tentang pengalaman hidupnya termasuk tiga pertanyaan paling mendasar tadi. Mereka lalu berdiskusi dan bersepakat bahwa Tuhan itu ada dan Dia merupakan Pencipta alam semesta.

Felix kemudian bertanya, “Saya yakin Tuhan itu ada, dan saya berasal dari-Nya, tapi masalahnya ada lima agama yang mengklaim mereka punya petunjuk bagi manusia untuk menjalani hidupnya. Yang manakah lalu yang bisa kita percaya?”
Sang ustadz menjawab, “Apapun diciptakan pasti mempunyai petunjuk tentang caranya bekerja. Begitupun manusia. Masalahnya, yang manakah kitab petunjuk yang paling benar dan bisa membuktikan diri bahwa ia datang dari Sang Pencipta atau Tuhan yang Maha Kuasa.”

Sang ustadz lalu membacakan suatu ayat Al-Quran:


Membaca ayat tersebut, Felix terpesona dengan ketegasan dan kejelasan serta ketinggian makna kitab tersebut. Dia berpikir mengapa penulis kitab ini berani menuliskan seperti itu. Seolah membaca pikirannya, sang ustadz kemudian melanjutkan, “Kata-kata ini adalah hal yang sangat wajar bila penulisnya bukanlah manusia, (yang merupakan) ciptaan yang terbatas, melainkan Pencipta. Not creation but The Creator. Bahkan Al-Quran menantang manusia untuk mendatangkan yang semacamnya.”


Ketika itu, pikiran Felix membeku dan bergejolak seperti jerami kering yang terbakar api. Dalam hati dia berkata, “Mungkin inilah kebenaran yang selama ini saya cari.” Namun, saat itu masih ada keraguan dalam hatinya, dan belum mau mengakui bahwa Al-Quran adalah suatu kitab yang sangat istimewa yang tidak bisa didatangkan oleh siapapun.

Felix kemudian bertanya lagi.

Felix     : Lalu mengapa agama yang sedemikian hebat malah terpuruk, menjadi pesakitan, hina dan menghinakan dirinya sendiri?

Dengan tersenyum dan penuh ketenangan sang ustadz menjawab.

Ustadz : Islam tidak sama dengan Muslim. Islam sempurna, mulia dan tinggi, tidak ada satupun yang tidak bisa dijelaskan dan dijawab dalam Islam. Muslim akan mulia, tinggi juga hebat. Dengan satu syarat, mereka mengambil Islam secara kaffah (sempurna) dalam kehidupan mereka.
Felix     : Jadi maksud ustadz, Muslim yang sekarang tidak atau belum menerapkan Islam secara sempurna?
Ustadz : Ya, itulah kenyataan yang bisa anda lihat.

Felix Siauw kemudian dijelaskan panjang lebar mengenai perbedaan Islam dengan Muslim. Penjelasan tersebut dirasakannya sangat luar biasa sehingga memperlihatkan bagaimana sistem Islam kaffah bekerja. Hal tersebut belum pernah dia dengar selama ini. Ketika itu dia sadar betul kelebihan dan kebenaran Islam. Selama ini dia membenci Islam karena hanya melihat Muslimnya saja, bukan Islamnya. Dia hanya melihat sebagian dari Islam, tidak keseluruhan.


Terjawabnya Tiga Pertanyaan

Pada akhirnya, tiga pertanyaan paling utama yang selama ini menyelimuti Felix Siauw terjawab dengan sempurna. Dia kemudian yakin bahwa dia berasal dari Sang Pencipta dan itu adalah ALLAH Ta’âla. Manusia hidup untuk beribadah (secara luas) kepada-NYA karena itulah perintah-NYA yang tertulis dalam Al-Quran. Al-Quran dijamin datang dari ALLAH karena tidak ada seorangpun yang mampu mendatangkan yang semacamnya. Setelah hidup ini berakhir, manusia akan kembali kepada ALLAH dan membawa perbuatan ibadah selama hidup dan dipertanggungjawabkan kepada-NYA sesuai dengan aturan yang diturunkan oleh ALLAH.

Setelah merasa yakin dan memastikan untuk jujur pada hasil pemikiran, Felix Siauw kemudian memutuskan: BAIK, KALAU BEGITU SAYA AKAN MASUK ISLAM.

Felix menyadari, keputusannya menjadi pemeluk Islam akan mendatangkan banyak sekali tantangan. Dia memiliki lingkungan yang tendensius terhadap Islam dan keputusannya tersebut tidak akan membuat mereka senang. Namun dia berpikir, apakah harus tetap mempertahankan perasaan dan kebohongan dengan mengorbankan kebenaran yang dicari selama ini. Dia memastikan dengan tegas tidak sama sekali. Dia yakin bahwa ALLAH akan memberikan semuanya walaupun tantangan ada di depan mata.

Menjadi pemeluk Islam, Felix Siauw, atau yang kemudian mempunyai nama lain Muhammad al-Fatih, menemukan ketenangan sekaligus perjuangan. Ketenangan pada hati dan pikiran karena kebenaran Islam. Perjuangan karena banyak Muslim yang masih terpisah dengan Islam dan tidak mengetahui hakikat Islam seperti yang dia ketahui, kenikmatan Islam seperti yang dia nikmati, dan kebanggaan kepada Islam seperti yang dia miliki.


Thanks for reading  ^_^

Sumber:

P.S.

Silakan kalau mau copy-paste, dan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

Sabtu, 24 Agustus 2013

IRENA HANDONO, MANTAN BIARAWATI YANG MASUK ISLAM SETELAH MENCARI KELEMAHAN AL-QURAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم

ALLAH Ta’âla memberi petunjuk dan hidayah kepada siapa saja yang mencari kebenaran, di manapun mereka berada, bahkan bila di biara sekalipun. Itulah yang terjadi pada Irena Handono, atau Hj. Irena Handono, yang mendapat hidayah justru saat dia sedang giatnya mencari kelemahan Islam. Awal bergetarnya kalbu Irena pada keesaan ALLAH Ta’âla adalah ketika membaca Suroh Al-Ikhlash, suroh ke tiga terakhir dari Kitab Agung Al-Quran.


Masa Kecil dan Remaja

Irena Handono dibesarkan dalam keluarga yang religius. Kedua orangtuanya merupakan pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi dia sudah dibaptis. Selain bersekolah seperti biasa, dia juga mengikuti kursus agama secara privat.

Sejak kecil, Irena sudah termotivasi untuk masuk biara. Bagi orang Katholik, hidup membiara adalah hidup yang paling mulia karena merupakan pengabdian total seluruh hidupnya kepada Tuhan. Semakin dewasa, keinginan Irena tersebut semakin kuat, sehingga menjadi biarawati adalah tujuan hidup dia satu-satunya. Ketika remaja, dia bahkan sudah aktif di organisasi gereja.

Secara materi, kehidupan Irena nyaris sempurna. Dia dilahirkan di keluarga etnis Tionghoa kaya raya. Luas rumahnya 1.000 m2. Ayahnya adalah seorang pengusaha terkenal di Surabaya, dan merupakan salah satu donatur terbesar gereja di Indonesia. Irena adalah anak ke lima dan wanita satu-satunya dari lima bersaudara.

Selain materi, Irena juga diberi kelebihan lain berupa kecerdasan yang cukup lumayan. Prestasi akademiknya selalu memuaskan. Dia pernah terpilih sebagai ketua termuda pada salah satu organisasi gereja.

Masa remaja Irena sama seperti layaknya remaja pada umumnya, punya banyak teman, disayangi oleh teman, dan bahkan menjadi teman favorit teman-temannya. Masa remaja dia habiskan dengan penuh kesan, bermakna, dan indah, namun tidak larut dalam pergaulan yang tidak baik seperti hura-hura atau foya-foya meski dia memiliki banyak fasilitas untuk itu. Keinginan dia untuk menjadi biarawati masih tetap kuat.


Hidup Membiara

Ketika lulus SMA, Irena memutuskan untuk hidup membiara, hidup untuk mengikuti panggilan Tuhan. Orangtuanya awalnya terkejut karena merasa berat membiarkan anak gadisnya hidup terpisah dari mereka. Namun sebagai penganut Katholik yang taat, mereka akhirnya mengizinkan Irena hidup membiara. Kakak-kakaknya justru bangga mempunyai adik yang ingin menjadi biarawati.

Memasuki kehidupan biara, tidak ada kesulitan berarti bagi Irena, bahkan dia merasakan kemudahan. Dari sekian banyak biarawati, hanya ada dua orang yang diberi tugas ganda, yaitu kuliah di biara dan kuliah di Institut Filsafat Teologia, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur. Dan salah satu biarawati yang mendapat keistimewaan itu adalah Irena.

Di usianya yang 19 tahun, Irena harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yaitu pendidikan di biara dan di seminari. Dia mengambil Fakultas Comparative Religion, Jurusan Islamologi. Di tempat inilah untuk pertama kalinya dia mengenal Islam.


Awal Mengenal Islam

Di awal perkuliahan, dosen memberi pengantar bahwa agama terbaik adalah Kristen, sedangkan agama lain tidak baik. Sang dosen mengatakan bahwa Islam adalah agama yang jelek. Sang dosen membawakan pengantar: Di Indonesia yang melarat itu siapa? Yang bodoh siapa? Yang kumuh siapa? Yang tinggal di bantaran sungai siapa? Yang kehilangan sandal tiap hari Jumat siapa? Yang berselisih paham tidak bisa bersatu siapa? Yang jadi teroris siapa? Semua menunjuk pada Islam, sehingga sang dosen mengatakan bahwa Islam itu jelek.

Namun, Irena ternyata tidak menelan mentah-mentah perkataan sang dosen. Dia mengatakan bahwa kesimpulan itu perlu diuji. Dia mencontohkan negara lain seperti Filipina, Meksiko, Italia, Irlandia, dan negara-negara mayoritas Kristen lain tak kalah amburadulnya. Dia juga menyebutkan negara-negara penjajah hingga terbentuknya negara Amerika dan Australia, dan terbentuknya negara Israel yang awalnya tidak punya wilayah kemudian merampok Palestina. Dia menyatakan bahwa Islam adalah simbol keburukan tidaklah terbukti. Dia kemudian tertarik mempelajari masalah ini. Untuk tujuan itu, dia meminta izin pada pastur untuk mempelajari Islam dari sumbernya sendiri, yaitu Al-Quran dan al-Hadits. Izin kemudian diberikan dengan catatan, Irena harus mencari kelemahan Islam.


Suroh Al-Ikhlash

Pertama kalinya memegang Kitab Suci Al-Quran, Irena kebingungan. Dia tidak mengetahui mana yang depan, mana yang belakang, mana atas dan mana bawah. Dia semakin kebingungan setelah mengamati bentuk hurufnya. Dia kemudian mempelajari Al-Quran dari terjemahannya.

Irena yang belum mengerti bahwa membaca Al-Quran dimulai dari kanan, membuka Al-Quran dari kiri. Yang pertama dia lihat adalah Suroh Al-Ikhlash.

Irena kemudian membaca terjemahan Suroh Al-Ikhlash dan memujinya karena terjemahannya bagus. Suara hatinya membenarkan bahwa ALLAH itu ahad, ALLAH itu satu, ALLAH tidak beranak, tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang menyamai DIA. Irena memuji suroh tersebut, “Ini kok bagus, dan bisa diterima.”


Ketika kuliah Teologia pagi harinya, dosen Irena mengatakan bahwa Tuhan itu satu tapi pribadinya tiga, yaitu Tuhan Bapa, Tuhan Putra, dan Tuhan Roh Kudus. Tiga Tuhan dalam satu, satu Tuhan dalam tiga, hal ini yang disebut Trinitas atau Tritunggal. Pada malam harinya, ada suatu dorongan yang membuat Irena ingin mengkaji lagi Suroh Al-Ikhlash. “ALLAHU ahad, ini yang benar,” kata Irena pada akhirnya.


Konsep Trinitas

Hari berikutnya, dialog terjadi antara Irena dan dosen-dosennya.

Irena    : Pastur, saya belum paham hakekat Tuhan.
Pastur  : Yang mana yang anda belum paham?

Sang pastur kemudian maju ke papan tulis dan menggambar setiga sama sisi, AB=BC=CA. Dia menjelaskan bahwa segitiganya satu, sisinya tiga, yang berarti Tuhan itu satu tapi pribadinya tiga. Tuhan Bapa sama kuasanya dengan Tuhan Putra dan sama kuasanya dengan Tuhan Roh Kudus.

Irena    : Kalau demikian, suatu saat nanti kalau dunia ini sudah modern, iptek semakin canggih, Tuhan kalau hanya punya tiga pribadi, tidak akan mampu untuk mengelola dunia ini. Harus ada penambahnya menjadi empat pribadi.
Pastur  : Tidak bisa!
Irena    : Bisa saja.

Irena kemudian maju ke papan tulis dan menggambar bujur sangkar. Jika sang dosen bisa mengatakan Tuhan itu tiga dengan gambar segitiga sama sisi, maka Irena menggambar bujur sangkar. Dia mengatakan bisa saja disimpulkan bahwa Tuhan itu pribadinya ada empat. Namun, pastur tetap bilang tidak boleh.

Irena    : Mengapa tidak boleh?
Pastur  : Ini dogma, yaitu aturan yang dibuat oleh para pemimpin gereja.
Irena    : Kalau saya belum paham dengan dogma itu bagaimana?
Pastur  : Ya terima saja, telan saja. Kalau anda ragu-ragu, hukumnya dosa!

Meski diakhiri dengan jawaban demikian, malam harinya kembali ada dorongan yang membuat Irena ingin mempelajari Suroh Al-Ikhlas. Hal ini terjadi berkelanjutan, hingga akhirnya dia bertanya kembali pada pastur.

Irena    : Siapa yang membuat mimbar, membuat kursi, meja?

Sang pastur yang mulai curiga tidak mau menjawab.

Pastur  : Coba anda jawab.
Irena    : Itu semua yang membuat tukang kayu.
Pastur  : Lalu kenapa?
Irena    : Menurut saya, semua barang itu walaupun dibuat setahun lalu, sampai 100 tahun kemudian tetap kayu, tetap meja, tetap kursi. Tidak ada satupun yang membuat mereka berubah jadi tukang kayu.
Pastur  : Apa maksud anda?
Irena    : Tuhan menciptakan alam semesta dan seluas isinya termasuk manusia. Dan manusia yang diciptakan 100 tahun lalu sampai 100 tahun kemudian, sampai Kiamat tetap saja manusia. Manusia tidak mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh dipersamakan dengan manusia.

Malam harinya, Irena kembali mengkaji Suroh Al-Ikhlash. Hari berikutnya, dia bertanya kembali pada pastur.

Irena    : Siapa yang melantik (ketua) RW?

Bertanya seperti itu, Irena ditertawakan oleh para pastur.

Irena    : Sebetulnya saya tahu.
Pastur  : Kalau anda tahu, mengapa anda tanya? Coba jelaskan.
Irena    : Menurut saya, yang melantik RW itu pasti eselon di atasnya, lurah atau kepala desa. Kalau sampai ada RW dilantik oleh RT, jelas pelantikan itu tidak sah.
Pastur  : Apa maksud anda?
Irena    : Menurut pendapat saya, Tuhan itu menciptakan alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia. Manusia itu hakekatnya sebagai hamba Tuhan. Maka kalau ada manusia melantik sesama manusia untuk menjadi Tuhan, jelas pelantikan itu tidak sah.

Keluar dari biara malam berikutnya, Irena kembali mengkaji Suroh Al-Ikhlash. Dialog-dialog kembali terjadi, sampai pada akhirnya dia bertanya mengenai sejarah gereja.

Menurut semua literatur yang telah dipelajari Irena dan dari kuliah yang diterimanya, Yesus disebut dengan sebutan Tuhan untuk pertama kalinya adalah ketika dia “dilantik” menjadi Tuhan pada 325 Masehi. Irena berkesimpulan bahwa sebelum itu Yesus belum menjadi Tuhan, dan yang melantiknya sebagai Tuhan adalah kaisar Konstantin, kaisar Romawi.

Pelantikan Yesus sebagai Tuhan terjadi pada sebuah Conseni/Konsili (muktamar/konferensi para uskup) di kota Nicea. Pada waktu itulah Yesus pertama kalinya berpredikat sebagai Tuhan. Irena mengajak umat Kristen di seluruh dunia untuk mencari cukup satu ayat saja dalam Injil – Matius, Markus, Lukas, Yohanes – yang berisi satu kalimat Yesus yang menyatakan “Aku Tuhanmu”. Dia mengatakan tidak ada satupun ayat seperti itu.

Para pastur yang mendengar hal itu kaget bukan main dan menganggap Irena sebagai biarawati yang kritis. Hingga pertemuan berikutnya, Irena ternyata tidak mampu menemukan kelemahan Al-Quran yang selama ini dia pelajari. Dia bahkan yakin tidak ada manusia yang mampu.

Kebiasaan mengkaji Al-Quran tetap Irena teruskan. Hingga pada akhirnya, Irena berkesimpulan bahwa agama yang haq itu cuma satu, Islam.


Keluar Dari Biara

Irena kemudian mengambil keputusan besar, yaitu keluar dari biara. Hal tersebut merupakan hasil proses pertimbangan dan perenungan yang dalam, termasuk melalui surat dan ayat. Bahkan, Irena mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari Al-Quran Suroh Maryam. Padahal dalam doktrin Katholik, Maryam mendapat tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak ada doa tanpa melalui perantaranya, namun anehnya tidak ada Injil Maryam.

Irena keluar dari biara dengan keyakinan bahwa Islam adalah agama ALLAH. Namun, tidak saat itu juga dia bersyahadat. Dia baru bersyahadat enam tahun kemudian. Selama masa enam tahun tersebut, dia masih bergelut melakukan pencarian. Dia diterpa berbagai macam persoalan, kesedihan, kesenangan, suka dan duka. Sedih karena dia harus meninggalkan keluarganya. Reaksi orangtuanya pun bingung bercampur sedih.

Irena melanjutkan kuliah di Universitas Atmajaya. Dia kemudian menikah dengan seorang Katholik. Harapan dia adalah, dengan menikah maka dia tidak akan lagi terusik dengan pencarian agama. Dia berpikir, setelah menikah semuanya akan selesai. Namun, ternyata diskusi seperti itu tetap berjalan, apalagi suaminya adalah aktivis kampus. Mereka kerap berdiskusi dan selalu berakhir dengan pertengkaran. Jika Irena mulai bicara tentang Islam, suaminya menyudutkan, dan Irena tidak menyukai jika sesuatu dihujat tanpa alasan. Jika disudutkan, maka Irena akan membela, dan hal itu membuat jurang pemisah antara dia dan suaminya semakin lebar, hingga sampai pada puncaknya.


Bersyahadat

Irena menganggap rumah tangganya sudah tidak bisa diteruskan dan tidak mungkin bertahan lama. Dia kemudian mulai mencari ustadz untuk belajar Islam karena sebelumnya dia hanya belajar melalui buku.

ALLAH kemudian mempertemukan Irena dengan ustadz yang bagus, salah satunya adalah KH. Misbah (Alm.), mantan Ketua MUI Jawa Timur. Irena beberapa kali berkonsultasi dengan sang kyai dan mengemukakan niat untuk memeluk Islam. Sang kyai tiga kali menjawab dengan jawaban yang sama, “Masuk Islam itu gampang, tapi apakah anda sudah siap dengan konsekuensinya?”

Irena    : Siap!
Kyai     : Apakah anda tahu konsekuensinya?
Irena    : Pernikahan saya.
Kyai     : Kenapa dengan pernikahan anda, mana yang anda pilih?
Irena    : Islam!

Pada akhirnya, rohmat ALLAH datang kepada Irena Handono. Irena kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan sang kyai, pada 1983 di usinya yang ke 26. Setelah resmi memeluk Islam, dia mengurus perceraiannya dengan sang suami yang tetap pada agamanya. Pernikahan yang berlangsung lima tahun tersebut berbuah tiga orang anak, satu wanita dan dua laki-laki, dan mereka semua mengikuti jejaknya memeluk Islam.


Sholat Pertama Kali

Satu hari sebelum Ramadhan 1983, Irena langsung melaksanakan sholat. Saat itu, salah satu kakaknya mencarinya. Karena rumah yang besar dan terdapat banyak kamar, kakaknya mencarinya sambil berteriak. Dia kemudian membuka kamar Irena dan terkejut. “Kok ada perempuan sholat?” kata kakaknya. Dia berpikir bahwa yang sholat adalah orang lain, dan kemudian menutup pintu.

Hari berikutnya, kakak Irena yang lain mencarinya. Dia kemudian mengetahui bahwa yang sedang sholat itu adalah adiknya. Usai sholat, Irena tidak mau lagi menyembunyikan keislamannya yang selama ini dia tutupi. Kakaknya terkejut luar biasa, tidak menyangka ternyata adiknya sendiri yang sedang sholat. Dia tidak bisa bicara, wajahnya seketika merah dan pucat. Sejak itu, keretakan antara Irena dan kakaknya mulai terjadi.


Meninggalkan Rumah

Irena memutuskan untuk meninggalkan rumah karena keislamannya tidak diterima keluarganya. Dia kemudian mengontrak rumah sederhana di Kota Surabaya. Meski begitu, ibunya tetap tidak mau kehilangan Irena, apalagi dia adalah anak wanita satu-satunya. Ibunya sering menjenguk sesekali hingga enam tahun kemudian dia meninggal. Setelah sang ibu meninggal, tidak ada kontak lagi antara Irena dengan ayah atau anggota keluarga yang lain.

Irena sempat berdakwah pada ibunya, meski ketegangan-ketegangan tetap terjadi. Islam, bagi sang ibu, identik dengan hal-hal yang dicontohkan oleh sang pastur saat Irena pertama kuliah. Pendapat sang ibu yang sudah terpola sangat susah diubah, apalagi dia sudah berusia lanjut.


Mulai Berdakwah

Pada 1992, Irena Handono menunaikan Rukun Islam ke-5. Selama memeluk Islam hingga naik haji, Irena selalu menggerutu kepada ALLAH dengan sedikit kesal, “Kalau Engkau, ya ALLAH, menakdirkanku sebagai seorang yang mukminah, mengapa Engkau tidak menakdirkanku menjadi anak orang Islam, punya bapak Islam, dan ibu orang Islam, sama seperti saudara-saudara Muslim yang kebanyakan itu. Dengan begitu, aku tidak perlu mengalami banyak penderitaan. Mengapa jalan hidupku harus berliku-liku seperti ini?”

Di Masjidil Haram, Irena bersungkur mohon ampun, dilanjutkan sujud syukur. Dia bersyukur mendapat petunjuk dengan perjalanan hidupnya yang seperti itu. Islam adalah agama hidayah, agama haq. Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Manusia diberi oleh ALLAH berupa akal, budi, emosi, dan rasio. Agama Islam adalah agama untuk orang berakal. Semakin dalam daya analisis kita, insya ALLAH, ALLAH akan memberi. ALLAH berfirman, “Apakah sama orang yang tahu dan yang tidak tahu?”

Sepulang haji, hati Irena semakin terbuka dengan Islam. ALLAH Ta’âla berkehendak memberikan kemudahan padanya dalam belajar agama Tauhid ini. Tidak banyak kesulitan yang dialami Irena dalam mempelajari kitab-kitab. ALLAH memberi kekuatan padanya untuk berbicara dan berdakwah. Dia menjadi begitu lancar berdakwah dan banyak diundang untuk berdakwah. Tak hanya di Surabaya, dia juga kerap diundang berdakwah di Jakarta.

ALLAH kemudian memberi Irena pasangan hidup. Melalui pertemuan yang Islami, sang calon suami yang merupakan ulama, melamarnya. Dia adalah Masruchin Yusuf, duda lima anak yang istrinya telah meninggal dunia. Mereka berdua sama-sama aktif berdakwah hingga pelosok desa.

Irena Handono, dalam dirinya terus menekankan bahwa:
Hidupku, matiku, hanya karena ALLAH.


Sumber:
Penuturan Hj. Irena Handono kepada Siwi Wulandari dari majalah “Hidayah”.

P.S.

Silakan kalau mau copy-paste, dan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.